USIA KANDUNGAN YANG BOLEH DIGUGURKAN MENURUT ISLAM

USIA KANDUNGAN YANG BOLEH DIGUGURKAN MENURUT ISLAM

USIA KANDUNGAN YANG BOLEH DIGUGURKAN MENURUT ISLAM

Aborsi merupakan istilah pengguguran kandungan atau janin, yang artinya membuang seorang anak sebelum sempurna atau dapat disebut dengan menggugurkan janin. Secara bahasa aborsi bisa dikatakan lahirnya sebuah janin karena dipaksa sebelum waktunya.

Hukum dari kegiatan aborsi yaitu haram dilakukan pada berbagai usia janin. Namun hukum ini dapat berubah, ketika dalam keadaan kondisi darurat, contohnya jika nyawa seorang ibu tersebut terancam hidupnya atau berbagai kondisi lainnya yang berbahaya.

Berikut adalah hukum aborsi yang telah diperinci menjadi beberapa bagian sesuai dengan usia janin calon bayi :

Hukum Aborsi Janin Usia 120 Hari Atau Lebih

Para ulama bersepakat bahwa atas haramnya perilaku aborsi secara mutlak apabila usia janin sudah mencapai 120 hari atau lebih. Karena pada masa fase ke-3 ini, ruh sudah ditiupkan masuk pada janin, yang artinya janin sudah hidup atau bernapas.

Membunuh janin pada usia tersebut sama juga dengan membunuh manusia (dosa besar). Hukum ini dapat berubah ketika dalam situasi di mana tanpa aborsi akan membahayakan nyawa ibu yang sedang mengandung.

Hukum Aborsi Janin Usia Sebelum 120 Hari

Adapun hukum menggugurkan janin yang berusia di bawah 120 hari, maka hukumnya tetap haram menurut jumhur/ mayoritas ulama karena hal tersebut sama dengan memutus keturunan kecuali terdapat sebab yang dibenarkan dalam syariah atau untuk mencegah terjadinya bahaya pada ibunya.

Namun, ada pula beberapa ulama yang berpendapat berbeda terkait hukum pengguguran janin yang belum mencapai usia 120 hari/ sebelum ditiupnya ruh kehidupan kepada janin. Untuk lebih jelasnya maka berikut adalah macam-macam hukumnya:

Mubah

Mubah yang diarikan yaitu boleh secara mutlak. Hal ini merupakan pendapat dari sebagian para ulama madzhab Hanafi. Alasannya yaitu karena usia janin masih di bawah 120 hari, dan kondisi janin masih belum berwujud.

Namun, dalam madzhab Hanafi mengatakan bahwa boleh aborsi jika ada udzur atau alasan yang kuat, yang dapat diterima secara masuk akal secara syariah, dan berdosa apabila aborsi dilakukan tanpa adanya sebuah udzur atau dalam keadaan darurat.

Sebagian ulama yang bermadzhab Hanbali membolehkan aborsi pada fase pertama kehamilan yaitu pada usia janin 40 hari pertama (fase nuthfah). Pendapat lain yang membolehkan aborsi sebelum 120 hari adalah merekan madzhab Syafi’i, Maliki dan Hanbali yang pada umumnya dikaitkan dengan adanya udzur atau keadaan darurat.

Makruh

Pendapat dari Ali bin Musa (ulama madzhab Hanafi) dan salah satu pendapat dalam madzhab Syafi’i. Menurut sebagian ulama madzhab Maliki makruh secara mutlak melakukan aborsi sebelum kandungan usia 40 hari (fase nuthfah).

Haram

Madzhab Maliki mengatakan bahwa hukumnya haram secara mutlak. Ad-Dardir yang mengakatakan pendapatnya yaitu tidak boleh mengeluarkan (menggugurkan) sperma yang sudah masuk ke dalam rahim wanita walaupun usianya belum mencapai 40 hari sekalipun.

Dalam madzhab Maliki, perempuan yang melakukan tindakan aborsi akan terkena hukuman. Baik usia janin masih dalam fase nuthfah (40 hari pertama) atau alaqah. Pelaku yang melakukan hal tersebut akan terkena sanksi denda berupa ghurrah dan kaffarah.

Pendapat lain dari madzhab Syafi’i juga sepakat atas haramnya menggugurkan kandungan walaupun masih dalam fase nuthfah, karena ketika sebuah sperma sudah menetap dalam rahim wanita, maka akan melanjutkan ke dalam proses untuk membentuk fisiknya (takhalluq) dan kemudian siap untuk menerima tiupan ruh kehidupan.

Pendapat utama lain dari madzhab Hanbali juga mengharamkan tindakan aborsi secara mutlak setelah fase nuthfah seperti yang telah disebutkan oleh Al-Jauzi, Ibnu Qudamah, dan Ibnu Aqil. Madzhab Hanbali memutuskan bahwa siapapun yang menyebabkan gugurnya kandungan janin maka orang tersebut terkena hukuman membayar ghurrah dan kaffarah.

Apabila kejadian gugurnya kandungan disebabkan oleh wanita yang hamil itu sendiri, maka wanita tersebut yang terkena denda kaffarah dan ghurrah. Apabila ada orang lain yang menjadi penyebab gugurnya